Breaking News

Cirik Barandang

Cirik Barandang
Ilustrasi (foto: Kompas.com)
A A A

KISAH ini diceritakan nenek dua puluh tahun lalu. Dua tahun setelah aku menyelesaikan kuliah.

Aku tidak tahu apa maksud nenek menceritakan kisah ini padaku. 

Apakah karena nenek tahu, suatu saat aku akan menikah, dan akan menjadi kepala keluarga.

Entahlah. 

Tapi yang jelas, aku hanya berpikir positif saja. Cerita ini untuk kebaikan buat aku. Agar kelak jika menikah nanti berhati-hati. Tidak saling dendam, saling benci. Seperti keluarga yang diceritakan nenek.

Baca juga: Festival Para Pembohong

Baca juga: Zainuddin, Kuburkan Surat Ini Setelah Kau Membacanya!

Darimana nenek mendapatkan cerita ini? Apakah ini kisah nyata atau cuma khayalan? Aku juga tidak tahu. Aku pun tidak berniat menanyakan kepadanya.

Hanya, aku berpikir. Agar cerita ini tidak menguap begitu saja, hilang, dan bisa menjadi pelajaran, aku tiba-tiba ingin mengawetkannya lewat tulisan.

Inilah kisahnya.

Kalau diamati dari jauh, sepintas, keluarga ini aman-aman saja. Tidak ada masalah serius. “Namun semakin didekati, ada aroma sesuatu,” nenek mengawali ceritanya sambil batuk-batuk kecil agar aku semakin penasaran.

Baca juga: Raibnya Bulan, Kabul yang Tahu

“Memang ada apa, nek?” tanyaku ingin tahu.

Ceritanya begini.

Ada sebuah keluarga. Sebut saja suaminya bernama Bahwan, dan istrinya Marni.

Mereka sudah bilangan tahun menjadi suami-istri. Namun beberapa tahun, diketahui keduanya tidak saling tegur sapa. Diam dan saling acuh.

Anehnya, Bahwan dan Marni tetap tinggal seatap di rumah yang sama. Sulit dibayangkan. Bagaimana cara komunikasi dan hubungan mereka. Dipastikan hari-hari yang dilalui terasa dingin, hambar, tanpa canda, dan keriangan.

Tapi, biduk rumah tangga Bahwan dan Marni berjalan seperti biasa. Seolah-olah tak ada apa-apa. Mereka punya anak-anak cerdas, hormat kepada ayah dan ibunya.

Hanya saja putra-putrinya tidak tahu. Ibu-bapak mereka saling tidak bicara alias bakucarak.

Bahwan dan Marni pintar sekali menyembunyikan konflik antarmereka, sehingga anak-anaknya tidak merasakan ada keanehan hubungan ayah dan ibunya di rumah tangga.

Bagaimana mungkin diketahui? Sedangkan kebutuhan rumah tangga tetap dipenuhi oleh suaminya. Hanya saja, setiap kali uang belanja diberikan, bukan langsung pada Marni, tapi dititip melalui anak atau diletakkan di atas meja makan.

Bila ada kebutuhan dapur atau lainnya, Marni menitipkan pesan pada anaknya agar disampaikan pada Bahwan atau dia menulis di secarik kertas lalu ditarok di atas tempat tidur.

Baju, celana, dan kain tetap dicuci oleh istrinya. Makanan tetap terhidang di meja. Secangkir kopi dan dua potong juadah tetap terhidang setiap pagi. Hanya mereka tidak ada cakap dan tak ada tanya, bertegur sapa. Mereka saling mendiamkan diri. Peristiwa ini telah terjadi beberapa tahun.

Menurut cerita nenek, pada awalnya keluarga Marni dan Bahwan cukup harmonis. Mereka saling cinta dan menyayangi.

Namun, entah angin apa penyebabnya, biduk rumah mereka tiba-tiba nyaris pecah.

Pernah anak sulungnya, Ratman, begitu tahu ada yang kurang beres antara ayah dan ibunya langsung menanyakan hal ini pada kedua orangtuanya. Mengapa mereka tidak tegur sapa. Tapi tidak ada jawaban yang memberi solusi.

Marni dan Bahwan hanya saling menyalahkan, dan meluapkan emosi. Tetua kampung pun sudah berupaya untuk mendamaikan keduanya.

Namun, setelah sehari bicara, penyakit saling mendiamkan kumat kembali.

Dari cerita Marni, dia dan Bahwan pernah bertengkar hebat. Puncaknya saling memaki dan merembet penghinaan terhadap orang tua masing-masing.

Seusai bertengkar itulah, keduanya ketika bertemu tidak lagi mau bicara. Tiba-tiba saja muncul bias kebencian diantara mereka. Marni merasakan, hambar saja hatinya pada Bahwan. Begitu pula Bahwan merasa benci saja lihat Marni.

Karenanya, para tetangga menduga, Marni dan Bahwan kemungkinan telah diguna-gunai orang lain. Mereka telah diminumkan atau disuguhi cirik barandang. Ini dilakukan, agar rumah tangga Marni dan Bahwan kandas berantakan.

Cerita nenek, cirik barandang itu semacam ramuan dengan aneka jenis kotoran, seperti tahi hidung, tahi kuping, tahi berak atau tahi lainnya.

Lalu diaduk jadi satu. Direndang sampai hitam seperti kopi. Diminumkan kepada seseorang.

Akibat yang ditimbulkan setelah meminum atau memakannya, si punya badan bisa bodoh, bingung dan timbul perasaan benci.

Apakah ramuan ini yang telah menyebabkan Marni dan Bahwan saling tidak menegur? Kalau memang benar, siapakah yang tega meminumkan dan memakankan racikan cirik barandang kepada mereka.

Inilah yang menjadi pertanyaan banyak orang. Padahal, keduanya sudah berobat ke orang pintar. Tapi sikap diam, tak saling bicara, dan acuh diantara mereka tak kunjung sembuh dan terus berlanjut.

Saat itu, aku tak berani menanyakan apakah Marni dan Bahwan tetangga atau saudara dari nenek?

Kalau pun sekarang aku ingin menanyakan itu, tidak mungkin lagi. Sebab nenekku sudah meninggal dunia.

Cerita nenek. Ngeri, ah!

* Sastrawan yang mengabdikan diri sebagai guru

Silaturahmi SMSI

Komentar

Loading...