Breaking News

Jadilah Kolomnis KABARAKTUAL.ID

Ruang untuk gagasan Anda tentang berbagai hal, seperti permasalahan sosial, politik, ekonomi, pendidikan atau budaya.

Masih Adakah Wakil Rakyat di Sini? Tidak … Yang Ada Hanya Demagog!

Masih Adakah Wakil Rakyat di Sini? Tidak … Yang Ada Hanya Demagog!
Ilustrasi (foto: inet)
A A A

SAYA mempelajari betapa masyarakat kita keliru dalam mempersepsikan performan wakil rakyatnya. Sebagian besar memandang terkagum-kagum akan perilaku mereka yang berbicara dalam gedung dewan dengan suara lantang dan terkesan frontal kepada eksekutif.

Lihatlah. Sebagian besar wakil rakyat yang mengerang dan meminta perhatian ke dapilnya yang selalu mendapat apresiasi sebagai sesuatu yang hebat oleh masyarakat kita.

Padahal sesungguhnya masyarakat masih terpengaruh dengan budaya terjajah melihat wakil mereka berbicara sambil mengerang dan mengajarkan pihak eksekutif. Dalam benak mereka, begitulah wakil rakyat yang sesungguhnya.

Bagaimanapun, wakil rakyat sesungguhnya adalah pejabat yang mewakili ememen rakyat dalam masa kontrak lima tahun. Mereka harus memiliki integritas dan membawa rakyat ke tahapan lebih maju sesuai tujuan konstitusi negara.

Lalu, apa sebenarnya yang dapat dihargai rakyat dari wakil rakyat?

Jawabannya adalah: memperjuangkan anggaran pembangunan rakyat yang porsinya lebih besar daripada anggaran birokrasi. Komposisi yang mendekati ideal adalah 70% untuk pembangunan rakyat dan 30% untuk biaya birokrasi daerah.

Tapi, kalau komposisinya dibalik sebagaimana fakta di Aceh hari ini: 20 % untuk biaya pembangunan rakyat dan 80% biaya pejabat pelaksana birokrasi, maka dalam konteks ini wakil anda di parlemen adalah sangat korup.

Dengan kata lain, mereka hanya mementingkan hidup aparatur pemerintahan termasuk mereka sendiri sebagai wakil rakyat egois yang dhalim. Karena, kewenangan budgeting daerah itu ada pada mereka, dalam pengawasan wakil rakyat.

Jadi, ingat! Bukan soal bicaranya yang berapi-api yang mengundang permusuhan dengan eksekutif. Apalagi kalau yang dibicarakan itu -- kita paham -- hanya bahasa sumir yang ditujukan hanya untuk menarik simpati pemilih, rakyat yang kurang paham.

Sesungguhnya kalau ingin melihat wakil rakyat anda dengan sederhana cukup dengan dua cara.

Pertama, kedewasaan dalam sikap, baik ketika berbicara dan berperilaku. Kemudian, indikasi emosi yang terkendali. Mereka tidak perlu bicara seperti mahasiswa yang mengerang karena idealis atau karena dibayar.

Yang kedua, apa yang disampaikan adalah materi politik dan bermuara pada penataan pembangunan rakyat secara bertahap. Jadi, bukan soal penampilan dan gaya bicara seakan-akan ingin meruntuhkan gedung dewan. Padahal mereka juga memakan uang rakyat dengan lebel dana aspirasi atau pokok pikiran.

Kalau mereka hebat, coba kembalikan fungsi dewan pada posisinya. Jika tidak, percayalah kepada saya. Sesungguhnya rakyat Aceh sedang tidak memiliki wakilnya di lembaga legislatif.

Siapa juga mereka? Yang terlanjur dipilih dan sekarang duduk di gedung mewah itu adalah orang-orang yang menjadi pengguna anggaran sebagaimana SKPA. Fungsi legislatif yang seyogiyanya melekat pada diri mereka menjadi omong kosong selama mereka terjebak dengan dana aspirasi (Talk Nonsense).

Jika kurang menggunakan pikiran yang jernih, coba lihat berapa jumlah anggaran rakyat yang dimakan oleh wakil rakyat (DPRA). Kalau setiap anggota DPRA mendapatkan Rp 20 miliar, dikalikan 81 orang anggota maka total uang rakyat yang "dimakan" DPRA adalah Rp 1,62 triliun.

Ini belum lagi jatah tambahan untuk pimpinan dewan yang angkanya hampir dua kali lipat dari porsi masing-masing anggota dewan. Begitukah yang anda pikirkan tentang wakil anda yang bicara meradang dengan sangat hebat itu?

Mari kita berpolitik dan memimpin daerah secara cerdas. Anda butuh gubernur yang tegas dan paham manajemen anggaran negara. Anda paham bagaimana berpihak untuk rakyat yang sesungguhnya. 

Menurut saya, sekarang ini tidak ada wakil rakyat di Aceh yang ada hanya damagog! Silakan dijawab oleh semua ketua partai politik. Saya tidak melihat mereka membuka mulut untuk membela, karena mereka juga orang yang gagal paham tentang wakil rakyat.[]

* Pengamat Politik dan Pembangunan berdomisili di Banda Aceh.

Tulisan ini adalah kiriman dari pembaca, isi dari tulisan di luar tanggung jawab redaksi!
Silaturahmi SMSI

Komentar

Loading...