Breaking News

Perempuan Penunggu Tamu

Perempuan Penunggu Tamu
Ilustrasi (foto: repro)
A A A

Terhitung hari ini, sudah tiga hari Iyem tidak didatangi tetamunya. Bukan tamu biasa seperti tamu bulanan yang selalu mendatangi para wanita. Tetapi, ini tamu sebenarnya. Pelanggan. Para lelaki hidung belang. Konsekwensi profesi Iyem sebagai penjaja seks komersil.

Hari-hari Iyem terasa sunyi. Dia cuma nongkrong di beranda depan kost, sambil mengisap rokok putih yang rajin bertengger di bibir menornya.

Kamar tidur tempat ia buka praktik, selalu disemprot dengan parfum agar tetap wangi.

Gincu berwarna menyala yang menghias bibirnya ternyata belum mampu menarik pelanggan. Hari- hari Iyem tetap sunyi.

Sementara, Susi, si pendatang baru, tiga bulan lalu ngontrak di kamar sebelahnya, laris manis didatangi para pria tampan. Ada yang booking ke luar, dan tidak sedikit cukup di kost saja.

Tipe tamu Susi pun bermacam. Ada yang botak plontos, berperut gendut, kurus ceking, dan ada yang berbodi tegap.

Begitu pula kenderaan yang mengantar, pun berbeda. Ada yang naik ojek, taksi, mobil pribadi, dan tidak sedikit berplat merah. Maklum, Susi masih gesit, sintal.

Sedang Iyem, gadis migran dari desa puncak gunung. Walau pernah jadi primadona di komplek prostitusi itu, selain sudah berusia, penampilan pun tidak menarik lagi. Cara cari langganan tetap gaya kuno, menunggu dan menunggu. Atau sesekali minta bantu pada tukang ojek dan sopir taksi agar tamu yang cari mangsa diantar ke kostnya.

Sebaliknya Susi, memanfaatkan info digital, medsos, baik fb, twitter, line, instagram atau media " sembunyi " lainnya sebagai alat merebut pelanggan.

Mengapa Iyem, gadis tak lulus SMA, ini bisa terdampar ke kota ini? Pertanyaan yang selalu muncul dari setiap pelanggannya. Tapi, Iyem tahu itu cuma sekedar basa-basi, pemanis bibir untuk mencairkan suasana.

Himpitan ekonomi, kesulitan hidup, membuat Iyem hijrah dari kampungnya. Sepuluhan tahun lalu, seorang ibu bergelang dan berkalung emas datang setiap bulan ke kampungnya, dalih mencari pembantu rumah tangga, mengajak Iyem ke kota merubah nasib. Iyem percaya rayuan Mami, biasa perempuan itu memanggil namanya. Akhirnya Iyem berangkat ke kota dengan mimpi-mimpi di otaknya, agar bisa merubah hidup.

Hanya dua bulan Iyem bekerja bersih-bersih di rumah Mami. Lalu bulan berikutnya, Mami merayu Iyem agar mau menjadi penjaja seks komersial. Melayani tamu-tamu kenalan mami.

" Kerja ini cerah, mudah mendatangkan uang. Yang penting kamu mau bersolek dan sedikit genit," Mami membujuk Iyem sekaligus memberi petunjuk.

Setelah berulang kali diyakinkan perempuan tanpa suami itu, Iyem setuju.

"Baik, Mami. Aku coba."

" Begitu dong!" ujar Mami sambil senyum penuh makna. Sebab, sudah terbayang berapa rupiah akan mengalir ke kantongnya. Licik.

Itulah cerita Iyem padaku, seputar lika-liku dia pindah ke kota kecil ini, yang beberapa tahun terakhir mulai ramai dikunjungi banyak orang terutama para wisatawan.

Perpaduan suasana pegunungan dengan pantai membuat orang banyak datang ke tempat ini menikmati segala pesonanya.

Sebagai dosen muda yang mengambil program doktoral, aku telah dua bulan berada di kota ini, melakukan penelitian sekitar fenomena sosial dampak perkembangan kota terhadap kehidupan masyarakat urban.

Banyak responden yang telah aku interview, jumpai, bergaul dengan strata masyarakat, termasuk klas manusia seperti Iyem.

" Silahkan, Mas," Iyem menyodorkan sebatang rokok padaku sekalian memantik mancis untuk menghidupkan rokok yang sudah di bibirku. Gadis yang telah berkepala tiga ini, dari tadi aku lihat sudah berasap-asap.

" Apa tidak takut dosa, Mbak?" pancingku sambil menggelitik kesadaran spritual Iyem.

" Dosa, dosa?" tanya Iyem dengan sarkatis sambil menjentik abu rokoknya.

" Mengapa mesti, manusia seperti kami ini menjadi tumpuan orang paling pendosa. Bukankah mereka yang ke sini, yang wajahnya bagai malaikat lebih berdosa lagi, hamburkan uang yang entah dari mana, menipu istri, katanya dinas luar, dan anggap suci di muka istri, nyata tak lain penipu besar." Jawaban Iyem menusuk tajam ke relung hati. Aku tak menyangka Iyem begitu pasih berbicara realitas hidupnya.

"Janganlah sok suci, moralis, bicara dosa. Padahal mereka sendiri adalah para pendosa dan bedebah."

Aku lihat, Iyem sedikit emosional saat berbicara tema tuduhan sebagai pendosa.

" Kami jadi begini, Mas, karena kue pembangunan hanya dilahap mereka yang rakus itu. Tidak tersisa untuk kami. Karena, mereka anggap kami sampah, tak layak untuk hidup," lanjut Iyem bagai peluru ke luar dari moncongnya. Tajam dan pesat.

Sebagai peniliti, aku suka dengan blak-blakan Iyem. Semua kata-katanya terekam baik. Aku rencana, pada sidang disertasi nanti akan tayangkan secara utuh wawancara dengan Iyem.

Tak terasa, telah lama juga aku berdialog dengan gadis desa berkulit putih ini, walaupun dengan suasana sedikit panas, karena seperti itu yang aku inginkan. Artifisial, alami, tanpa rekayasa.

Sebelum mengakhiri jumpa, setelah beberapa kali bertemu, aku lihat Iyem sangat profesional, tidak mencampuradukkan pelayanan profesi dengan fungsinya sebagai nara sumber.

"Mbak Iyem, terakhir. Apa tidak pingin menikah?" tanyaku sambil berdiri mohon pamit.

"Ingin sekali. Asal dengan Mas!" jawab Iyem spontan sambil tersenyum, lalu tertawa ngakak.

Aku cuma tersipu malu. Sebagai lelaki normal dadaku sempat berdesir dengan senyum Iyem.

Aku ingat. Sangat yakin, tidak perlu lagi berlama-lama di tempat ini. Aku mesti pulang. Aku kangen dengan bidadari yang di rumah. Lebih higienis dan halal.[]

* Kas Pani M.Pd adalah sastrawan dan pelaku pendidikan, berdomisili di Singkil

Silaturahmi SMSI

Komentar

Loading...