Breaking News

Rosalina Kena Gadam

Rosalina Kena Gadam
Ilustrasi (foto: repro)
A A A

PARAS cantik Rosalina sudah menggerus. Pipi yang biasa merona merah, tembem, nyaris tidak bersisa lagi. Wajahnya kini pucat, tatapannya pun redup. Tidak lagi bergairah. Sedangkan tubuhnya makin tirus.

Sudah tiga bulan Rosalina hanya mendekam di kamar. Ada penyakit aneh yang menderanya. Ia malu keluar, sekalipun ke rumah tetangga. 

Seharian Rosalina hanya bisa menatap dingin tembok kamar, sambil sesekali berdiri di pintu rumah mencari angin dan berjemur di sinar matahari.

Dari cerita Uning Pidah, yang kerjanya suka bergosip dan ceriwis, sekujur tubuh Rosalina penuh bercak merah semacam kudis. Termasuk di area selangkang. Sebagian paha hingga kakinya berbintik merah dan melepuh.

"Rosalina menderita gadam, " bisik Uning Pidah pada Ningrum konco barunya yang sudah enam bulan tinggal di desa kami.

Baca juga: Kepsek yang Dituduh Punya Ilmu Santet Tewas Dibunuh

Mbak Ning biasa kami memanggilnya, ikut suami karena ditugaskan sebagai jaksa di kotaku.

Sore itu, Ningrum, Uning Pidah termasuk istriku dan dua orang temannya lagi, asik bergosip di teras rumah.

Aku yang nguping, sempat kesal mendengarnya. Tapi, kupikir asik juga. Apalagi cerita mereka kadang ngelantur kesana kemari, hingga membuat aku terkekeh-kekeh.

"Dasar emak-emak," kutukku dalam hati.

"Penyakit gadam itu, apa, buk?" tanya Mbak Ning ingin tahu.

Pertanyaan Ningrum membuat  Uning Pidah tambah semangat, apalagi ibu-ibu lainnya  mendesak agar ia menceritakan secara utuh, asal muasal penyakit gadam itu.

Layaknya seperti seorang dokter, padahal Uning Pidah SMA saja tidak lulus.  Cerita orang kampong, penyebabnya, perempuan berkulit kuning langsat itu, keburu hamil dua bulan sebelum nikah. Untuk menutup aib, terpaksa Uning Pidah nikah dini.

"Penyakit gadam, sejenis guna-guna. Tandanya kulit melepuh, merah berbintik tebal dan bersisik, berkudis kecil-kecil seperti kurap dan gatal. Kalau digaruk dengan jari memang enak, tapi sakitnya bertambah," jelas Uning Pidah menjawab rasa ingin tahu Ningrum dengan gerakan tangan seperti politisi lagi kampanye.

Baca juga: Antar Pulang Mahasiwi KKN, Dukun Babak-belur Dihajar

"Dunia medis menyebutnya sakit lepra atau kusta," tambahnya makin semangat.

"Ihhh ngerinya!" celetuk Mbak Ningrum bergidik.

"Lalu napa Rosalina bisa sampai kena gadam? " kejar Ningrum dengan pertanyaan beruntun.

Dari cerita Uning Pidah, awalnya Rosalina gadis

cantik dan berkulit putih. Ramah dan luwes. Ia lulusan sekolah bidan yang ditugaskan di sebuah puskesmas kecamatan.

Pemuda desa banyak meliriknya, dan mengajaknya pacaran. Bahkan ada yang berhasrat melamar dan menikahi Rosalina.

Tapi, ia menolak halus dengan alasan sudah punya calon suami, teman masa kuliahnya dulu yang kini bertugas di pulau seberang.

Setelah itu, tidak lama, terdengarlah kabar, Rosalina menderita penyakit aneh, tubuhnya berkudis, bintik merah, bahkan dagingnya ada yang terkelupas. Orang tuanya sudah membawa Rosalina ke beberapa dokter, termasuk ke orang pintar alias dukun. Namun, belum kunjung sembuh.

Dari dukun terkabar, Rosalina diteluh seseorang yang pernah cintanya ditolak Rosalina. Ia dendam, lalu meminta jasa dukun untuk mengguna-gunai Rosalina.

"Istilahnya, cinta ditolak dukun bertindak," Uning Pidah berpantun sambil tertawa.

"Biasanya gadam disebarkan, lewat media baju atau celana dalam yang lagi dijemur. Bentuknya sejenis miang yang telah dibaca mantra, jenisnya pun sangat halus lalu dioles di pakaian, tanpa sadar dipakai pemiliknya" ujar Uning Pidah.

Efeknya, jelas Uning Pidah, tubuh jadi gatal, selalu ingin menggaruk. Uning Pidah mengistilahkannya seperti main gitar di kesunyian.

"Amit-amit, deh. Jangan sampai aku kena," sela Ningrum ketakutan.

"Makanya kau jangan sombong dan banyak musuh. Apalagi dengan profesi suamimu, jaksa, tentu banyak orang yang tak suka, " Uning Pidah terus nyerocos.

Mendengar celoteh Uning Pidah mengarah padanya, Ningrum diam. Dengan muka pucat dan kesal, ia langsung balik badan.

"Ibu-ibu aku duluan, ya," ujarnya sambil meninggalkan Uning Pidah dan gengnya.

Semuanya bengong.[]

* Kas Pani M.Pd adalah sastrawan dan pelaku pendidikan, berdomisili di Singkil

Silaturahmi SMSI

Komentar

Loading...